KARENA CAK NUN, PRESIDEN SBY BERKANTOR DI SIDOARJO
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cak Nun - Dibaca: 105 kali

Sepulang dari Jogja tanggal 17 Juni 2007, semakin intensif saja hubungan perwakilan warga terdampak lumpur dengan Cak Nun. Hal itu disebabkan rencana beliau untuk mempertemukan perwakilan warga dengan Presiden SBY, bahkan karena rencana pertemuan tersebut, Cak Nun minta pada perwakilan warga untuk betul-betul mematangkan data dan menginventaris permasalahan warga terdampak lumpur untuk disampaikan ke Presiden.

Selasa, 19 Juni, ada berita dari Cak Nun bahwa perwakilan warga  akan diterima oleh Presiden SBY pada minggu 24 Juni 2007 di Jakarta. Kabar itu tentu saja mengembirakan semua, oleh karenanya malam itu juga digelar rapat persiapan untuk menghadap Presiden, diantaranya adalah persiapan data dan dan rencana pamit ke Pak Bupati untuk kepentingan tersebut.

Keesokan harinya,  perwakilan warga menghadap Pak Win Hendrarso Bupati Sidoarjo di Pendopo, selain memberitahukan rencana pertemuan dengan Presiden, perwakilan warga juga pamit untuk pergi ke Jakarta. Sempat Pak Win tidak percaya berita itu, bahkan beliau kontak ajudan Presiden dan diinformasikan tidak ada agenda presiden SBY menerima perwakilan korban lumpur. Meskipun demikian, perwakilan warga tetap berkeras hati dan akhirnya beliau berharap semoga berita itu benar.

Tanggal 23 Juni, 12 perwakilan warga yaitu H. Djoko Suprastowo dan Bambang Sakri dari Siring, Khoirul Huda dan Shomad dari Jatirejo, Imron Rosyadi, Mulyadi dan Suparman dari Kedung Bendo, Asmadi dan Mashuri dari Reno Kenongo, Agus Cahyono dari Kalitengah, dan Koes Sulaksono, Mulyono, Subiyanto dan Rizal dari perumtas  bersama anggota BbW diantaranya Cak Rakhmad, Mas Sukmo dan Mas Dimam Abror (waktu itu Pimred Harian Surya) berangkat ke Jakarta, dan disana  disambut hangat dan difasilitasi oleh komunitas  jama’ah Cak Nun yang bernama Kenduri Cinta (KC), mulai dari makan, penginapan, dan transportasi. Bahkan perwakilan warga juga di breafing bagaimana berkomunikasi efektif dengan Presiden, serta pembagian materi yang akan disampaikan ke presiden oleh masing-masing perwakilan, agar tidak tumpang tindih.

Tanggal 24 Juni jam 15.00 bertempat di kediaman pribadi presiden di Puri Cikeas, pertemuan antara perwakilan warga dan presiden SBY yang difasilitasi Cak Nun di gelar. Hadir dalam pertemuan tersebut  beberapa menteri antara lain Menteri PU Djoko Kirmanto selaku Ketua Dewan Pengarah BPLS, Menteri Sosial Bachtiar Chamsah, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menkominfo Moh. Nuh, Menteri Sekretaris Kabinet  Sudi Silalahi, Ketua BPLS Sunarso beserta staf, dan Tim Pendataan ITS.

Pertemuan di Pimpin Cak Nun sebagaimana permintaan Presiden SBY. Cak Nun memberikan pengantar tentang maskud dan tujuan membawa perwakilan warga. Dan masing-masing perwakilan-sebagaimana yang ditunjuk sebelumnya- diminta menyampaikan dihadapan Presiden. Ada perwakilan yang menyampaikan data data kronologi masalah sosial sejak kejadian semburan lumpur hingga 1 tahun  berjalan, ada perwakilan yang menyampaikan segala penderitaan warga, dan yang  lain turut menambahkan.

Ketika mendengar cerita-cerita itu, Presiden merasa terharu bahkan meneteskan air mata, ada kegeraman, kesedian dalam diri beliau. Dan ketika Cak Nun menambahkan kondisi dan realitas di lapangan, saat itu juga beliau memutuskan untuk berkantor di Sidoarjo. Presiden SBY  berterima kasih kepada Cak Nun dan menitipkan pesan ke perwakilan warga, bahwa  beliau turut prihatin dan  akan memperhatikan masalah ini.

Pada tanggal 25 hingga 27 Juni 2007, Presiden SBY berkantor di Juanda Surabaya dan sejak saat itu ada kemajuan signifikan dalam proses penyelesaian lumpur.




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)